Rabu, 29 Oktober 2014

FILSAFAT ADMINISTRASI

Perkembangan ilmu filsafat administrasi pada masa modern adalah munculnya rumusan mengenai kerja sama manusia yang dapat mempengaruhi, mengubah, mempelajari kerja sama dan dunianya yang berperan penting dalam membentuk peradaban administrasi. Modernisasi pengetahuan semakin meningkatkan keinginan manusia, dapat memperbudak manusia dan lebih mengerikan yaitu dapat mengancam keamanan dan kehidupan manusia. Untuk mencermati perkembangan administrasi dan teknologi, perlu kehadiran filsafat administrasi untuk mengembalikan arah ilmu administrasi dan teknologi pada jalur sesungguhnya, agar manusia tidak diancam kecemasan.
Jika seseorang mempelajari filsafat administrasi, maka substansinya adalah mengetahui pengertian dan hakikat filsafat administrasi. Filsafat administrasi merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan manusia. Tanpa disadari manusia telah melakukan proses berfikir dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi, karena manusia selalu ingin tahu dan mencari jawaban atas masalahnya. Filsafat administrasi adalah sebagai kumpulan ilmu pengetahuan tentang epistemology, aksiology dan golongonisme. Pentingnya mempelajari hakikat filsafat administrasi dalam kehidupan manusia bertujuan mengembalikan nilai luhur insan administrator agar tidak menjadi boomerang bagi kehidupan manusia.
Semangat administrator yang tinggi tanpa pemahaman yang mendalam akan dimensi esoteris dari hakikat filsafat administrasi, dapat mengarahkan manusia pada sikap fanatik (fanatical attitude), teori sikap administrasi yang sempit dan fundamentalisme. Dalam filsafat administrasi perlu menerapkan konsep kepemimpinan dalam masyarakat yang pluralistis, karena asumsi rumusan manusia adalah relativisme.

Kamis, 23 Oktober 2014

MAKALAH KONSEP MORAL


MAKALAH
KONSEP MORAL

Untuk Memenuhi Tugas Mata kuliah
Pendidikan Agama Islam
Yang dibimbing oleh Bapak, Fauzi. M.Ag


 Disusun Oleh:
SUTIMIN ABDULLAH


PROGRAM STUDY ILMU ADMINISTRASI NEGARA

FAKULTAS FISIP

UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI

MALANG

2014
















KATA PENGANTAR

IQRA’ BISMIRABBIKALLADZI KHALAQ. Bacalah ! dengan menyebut nama Tuhan yang telah menciptakan (QS. Al-Alaq: 1).
Alhamdulillahi Rabbil Alamin, segala puji bagi Allah  SWT Tuhan seru sekalian alam, atas limpahan hidayah-Nya, sehingga penulisan Makalah dengan judul “KONSEP MORAL DALAM KEHIDUPAN selesai dituliskan.
Butiran mutiara sholawat dan salam semoga tetap tercurah limpahan kepada khalifa akbar dunia yakni junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa obor keagungan diatas keborokan moral, laksana fajar di jamannya yang hadir dalam kegelapan menyibak pekatnya bayang – bayang kabut kebodohan.
Penyusunan makalah ini tentunya tidak lepas dari bantuan bapak dan ibu dosen, rekan-rekan mahasiswa  dan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada :
ü  Bapak dan ibu tercita, serta kak dan adik-adik-ku yang selalu mendo’akan dan memberi motifasi kepada penulis.
ü  Bapak Fauzi, M.Ag  selaku dosen mata kuliah Pendidikan Agama Islam yang telah banyak meluangkan waktu, ide dan pengarahannya.
ü  Teman-teman kelas  serta semua pihak yang tidak bisa disebut satu persatu yang telah banyak memberikan dorongan dan motivasi dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa penyusun makalah ini jauh dari kesempurnaan sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhir kata penulis berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi semua pihak.


Malang, 07 February 2014

Sutimin Abdullah












BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Telinga kita sering mendengar istilah filsafat moral atau lebih singkatny aetika. Begitu banyak orang – orang menggunakan istilah ini dalam berbagai kesempatan. Misalnya dalam hal rumah tangga, bisnis, dunia kampus dan berbagai aspek kehidupan lainnya. Penulis akan mengajak pembaca untuk memahami hakikat moral filsafat yang sebenarnya. Sejak dulu hingga sekarang manusia sering mempertanyakan mana yang baik dan mana yang buruk, karena kerap kali manusia dihadapkan pada pilihan – pilihan etis yang tidak bisa dijawab oleh agama dan ilmu pengetahuan. Hal tersebut merupakan alasan dalam pembahasan makalah kali ini. Dalam sejarah perkembangan ilmu, filsafat moral merupakan aliran pertama dalam filsafat, dengan Socrates sang maha guru para filsuf sebagai pelopornya. Moral merupakan cabang Aksiologi yang pada pokoknya membicarakan masalah predikat – predikat nilai betul dan salah dalam arti susila serta tidak susila . Etika atau moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal, menjadi ciri yang membedakan manusia dari binatang. Pada binatang tidak ada kesadaran tentang baik dan buruk, yang boleh dan yang dilarang, tentang yang harus dan tidak pantas dilakukan. Keharusan mempunyaidua macam arti: keharusan alamiah (terjadi dengan sendirinya sesuai hukum alam) dan keharusan moral (hukum yang mewajibkan manusia melakukan atau tidak melakukan sesuatu). Jadi, pada intinya alasan pemilihan judul makalah ini yakni menjadi acuan manusia untuk lebih baik dalam bertindak. Yang pastinya, manusia berperilaku berlandaskan dengan etika, yang seolah menjadi batas pembeda manusia dengan makhluk lainnya dalam berperilaku.
2.1  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapatlah dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Pengertian Moral itu apa?
2.      Bagaimana konsep Moral dalam Konteks Islam
3.      Apa yang diketahui terkait dengan hakekat hakekat?
4.      Bagaimana implementasinya terkait dengan konsep moral?
5.      Bagaimina Hubungan Akhlat/Moral dengan Kehidupan Beragama?


2.2  Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui:
1.      Pengertian Moral
2.      Konsep moral dalam konteks Islam.
3.      Hakekat moral.
4.      Implementasinya terkait dengan konsep moral.
5.      Hubungan Akhlak / Moral dengan Kehidupan Beragama.

















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Moral
Moral berasal dari bahasa Latin "mos" (jamak: mores) yang berarti kebiasaan atau adat. Kata "mos" (mores) dalam bahasa Latin sama artinya dengan etos dalam bahasa Yunani. Di dalam bahasa Indonesia, kata moral diterjemahkan dengan arti susila. Adapun pengertian moral yang paling umum adalah tindakan manusia yang sesuai dengan ide-ide yang diterima umum, yaitu berkaitan dengan makna yang baik dan wajar. Dengan kata lain, pengertian moral adalah suatu kebaikan yang disesuaikan dengan ukuran-ukuran tindakan yang diterima oleh umum, meliputi kesatuan sosial atau lingkungan tertentu. Kata moral selalu mengacu pada baik dan buruknya perbuatan manusia sebagai manusia. Telah banyak ahli yang mencoba memberikan pengertian moral. Seperti apa pengertian moral menurut mereka?
Berikut ini beberapa Pengertian Moral Menurut para Ahli:
  • Pengertian Moral Menurut Chaplin (2006): Moral mengacu pada akhlak yang sesuai dengan peraturan sosial, atau menyangkut hukum atau adat kebiasaan yang mengatur tingkah laku.
  • Pengertian Moral Menurut Hurlock (1990): moral adalah tata cara, kebiasaan, dan adat peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya.
  • Pengertian Moral Menurut Wantah (2005): Moral adalah sesuatu yang berkaitan atau ada hubungannya dengan kemampuan menentukan benar salah dan baik buruknya tingkah laku.
Dari tiga pengertian moral di atas, dapat disimpulkan bahwa Moral adalah suatu keyakinan tentang benar salah, baik dan buruk, yang sesuai dengan kesepakatan sosial, yang mendasari tindakan atau pemikiran. Jadi, moral sangat berhubungan dengan benar salah, baik buruk, keyakinan, diri sendiri, dan lingkungan sosial.
2.2 Konsep Moral dalam Konteks Islam (Al Qur’an dan Hadits)
Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa moral dalam Islam identik dengan akhlak. Di mana kata akhlak berasal dari bahasa Arab, bentuk jama’ dari kata “khulk”, khulk di dalam kamus al-Munjid berarti budi pekerti atau perangai.
Di dalam kitab “Ihya’ Ulumaldin”, karya Imam al Ghozali diungkapkan bahwa:
“Al-khulk ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan perimbangan” (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumaldin, Vol, III:56)
Jadi pada hakekatnya akhlak (budi pekerti) ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan telah menjadi kepribadian, hingga dari situ timbul berbagai macam perbuatan dengan cara mudah dan spontan tanpa dibuat dan tanpa memerlukan pemikiran. Apabila dari kondisi tadi timbul kelakuan yang baik dan terpuji menurut pandangan syari’at dan akal pikiran, maka ia dinamakan budi pekerti yang mulia dan sebaliknya apabila yang lahir kelakuan yang buruk, maka disebutlah budi pekerti yang tercela.
Selain itu juga disyari’atkan, bahwa suatu perbuatan dapat dinilai baik jika timbulnya perbuatan itu dengan mudah sebagai suatu kebiasaan tanpa memerlukan pemikiran. Mengenai syari’at tersebut, Asmara AS menegaskan bahwa dalam menetapkan suatu perbuatan, itu lahir dalam kehendak dan disengaja sehingga dapat nilai baik atau buruk ada dua syarat yang perlu diperhatikan:
a. Situasi memungkinkan adanya pilihan (bukan karena paksaan) adanya kemauan bebas, sehingga tidak dilakukan dengan sengaja
b. Tahu apa yang dilakukan yakni mengenai nilai baik buruknya.
Suatu perbuatan dapat dikatakan baik atau buruk manakala memenuhi syarat-syarat di atas. Dalam Islam, faktor kesengajaan merupakan penentu tingkah laku dalam penetapan nilai tingkah laku/tindakan seseorang. Seorang muslim tidak berdosa karena melanggar syari’at, jika ia tidak tahu bahwa ia berbuat salah menurut hukum Islam. Dalam hubungan ini Rasulullah SAW pernah bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Zar sebagai berikut:
حدثنا إبراهيم بن محمد بن يوسف الغريانى, ثنا أبو بين سويد ثنا أبو بكر الهد لى اعن سهربن حوشب عن ابي در الغفار, قال: قال لرسول الله ص.م. (إن الله تجاور عن امتى الخطأ والنسيان, وما أستكر هوا عليه)
“Sesungguhnya Allah memberi maaf bagiku dari umatku yang bersalah, lupa dan terpaksa” (Baqi, Sunan Ibnu Majah:658).
Dalam hadits lain yang diriwayatkan Ahmad Abu Daud dan Hakim dari Umar bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda :
حدثنا ابو بكر بن شيبة, قنا يريد بن هارون. ح وحدثنا محمد خالد بن خداس, ومحمد بن يحير قال : ثنا عبد الرحمن بن محمدي, ثنا حملا بن سلمة عن حماد, عن ابراهيم عن الاسود. عن عاس أن رسول الله ص.م. قال (رفع القلم عن ثلاثة, عن النائم حتى يستيقظ عن الصغير حتى يكبر ومن الحون حتى بعفل أو يفيق.
Artinya :
“Tidak berdosa seorang muslim karena tiga perkara :
  1. 1. Seorang yang tidur hingga terbangun
  2. 2. Seorang anak hingga ia dewasa
  3. 3. Seorang yang gila hingga ia sembuh dari gilanya (Baqi, Sunan Ibnu Majah:659).
Menurut firman Allah SWT. pada surat Al-Baqarah ayat 286 :
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
“Ya Tuhan kami janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau bersalah” (QS. Al-Baqarah: 286)
Menyimak hadits dan ayat di atas, perbuatan seseorang karena lupa bersalah atau terpaksa, tidak dapat dinilai baik atau buruk.
Seorang muslim tentunya berdaya upaya membentuk hidupnya menurut ajaran Islam dan ajaran Islam adalah ajaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Sehingga akhlaq muslim pun menggunakan tolak ukur ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Mengenai ini Rasulullah SAW telah bersabda “Ia hadir untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”
وحدثنى عن مالك أنه قد بلغه أن رسول الله الله ص.م. قال: بعثت لأتمم حسن الاخلق
“Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”
2.3 Hakikat Moral
Moral secara ekplisit merupakan berbagai hal yang memiliki hubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa adanya moral manusia tidak akan bisa melakukan proses sosialisasi. Moral pada zaman sekarang memiliki nilai implisit karena banyak orang yang memiliki moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit.
Moral itu merupakan salah satu sifat dasar yang diajarkan pada sekolah-sekolah serta manusia harus mempunyai moral jika ia masih ingin dihormati antar sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral sendiri dapat diukur dari kebudayaan masyarakat setempat.
Didalam moral terdapat perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam menjalankan interaksi dengan manusia. Jika yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta mampu menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dapat dikatakan memiliki nilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Moral juga dapat juga diartikan sebagai sikap, perilaku, tindakan, perbuatan yang dilakukan seseorang pada saat mencoba melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman, tafsiran, suara hati, serta nasihat, dll.
Menurut Immanuel Kant, moralitas adalah hal kenyakinan serta sikap batin dan bukan hanya hal sekedar penyesuaian dengan beberapa aturan dari luar, entah itu aturan berupa hukum negara, hukum agama atau hukum adat-istiadat. Selanjutnya dikatakan jika, kriteria mutu moral dari seseorang adalah hal kesetiaannya terhadap hatinya sendiri.
Moral merupakan tindakan manusia yang bercorak khusus yang didasarkan kepada pengertiannya mengenai baik dan buruk. Morallah yang membedakan manusia denga makhluk tuhan yang lainya dan menempatkan pada posisi yang baik diatas makhluk lain.
Moral adalah realitas dari kepribadian pada umumnya bukan hasil dari perkembangan pribadi semata, namun moral merupakan tindakan atau tingkah laku seseorang. Moral tidaklah bisa dipisahkan dari kehidupan beragama. Di dalam agama Islam perkataan moral sangat identik dengan akhlak. Di mana kata ‘akhlak’ berasal dari bahasa Arab jama’ dari ‘khulqun’ yang berarti budi pekerti.
Moral merupakan norma yang bersifat kesadaran atau keinsyafan terhadap suatu kewajiban melakukan sesuatu atau suatu keharusan untuk meninggalkan perbuatan–perbuatan tertentu yang dinilai masyarakat dapat melanggar norma–norma. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa suatu kewajiban dan norma moral sekaligus menyangkut keharusan untuk bersikap bersopan santun. Baik sikap sopan santun maupun penilaian baik – buruk terhadap sesuatu, keduanya sama – sama bisa membuat manusia beruntung dan bisa juga merugikan. Disini terdapat kesadaran akan sesuatu perbuatan dengan memadukan kekuatan nilai intelektualitas dengan nilai – nilai moral.
Dalam kamus filsafat terdapat beberapa pengertian dan arti moral yang diantaranya adalah sebagai berikut:
  • Memiliki: Kemampuan untuk diarahkan oleh (dipengaruhi oleh) keinsyafan benar atau salah; Kemampuan untuk mengarahkan (mempengaruhi) orang lain sesuai dengan kaidah-kaidah perilaku nilai benar dan salah.
  • Menyangkut cara seseorang bertingkah laku dalam berhubungan dengan orang lain.
  • Menyangkut kegiatan-kegiatan yang dipandang baik atau buruk, benar atau salah, tepat atau tidak tepat.
  • Sesuai dengan kaidah-kaidah yang diterima, menyangkut apa yang dianggap benar, baik, adil dan pantas.
Setelah mengetahui pengertian dan arti moral sudah barang tentu kita harus memiliki moral yang baik jika kita masih ingin dianggap manusia. Oleh karena itu, mari kita tingkatkan generasi kita dengan menanamkan moral-moral moral yang baik.
2.4 Implementasinya Terkait Konsep Moral.
Perwujudan Moral Dalam Kehidupan
Dengan demikian jelaslah bahwa agama menjadi sumber dari akhlak yang mulia, maka salah satu jalan untuk menegakkan akhlak ini prinsip-prinsip agama harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam mewujudkan nilai-nilai moral/akhlak yang mulia ada beberapa kewajiban yang perlu ditunaikan:
  1. Membersihkan hati serta mensucikan hubungan dengan Allah SWT. Keyakinan semacam ini harus tertanam dalam hati, dikerjakan dan diamalkan serta disampaikan pada orang lain. Kesucian hatinya nampak dalam perilakunya sehari-hari dan menyatakan bahwa yang baik itu adalah yang diakui baik oleh Islam, sedang yang buruk adalah yang dinyatakan oleh Islam buruk pula.
  2. Memperhatikan seluruh perintah dan larangan agama. Karena percuma beragama kalau tidak diiringi amal. Banyak orang mengaku beragama Islam, tetapi tidak dikerjakannya seruhan agama atau tidak dihentikannya semua larangan. Orang yang demikian selamanya tidaklah merasakan kelezatan cinta menjadi seorang Muslim.
  3. Belajar melawan kehendak diri dan menaklukkannya kepada kehendak Allah SWT. Pekerjaan ini amat berat dan sulit, hanya orang-orang yang mempunyai kemauan teguh dan hati yang sabar serta tahan yang dapat mengerjakannya. Nabi Muhammad bersabda, “Bahwa peperangan di antara akal dan hawa nafsu, di antara seruan kebenaran dengan suara setan. Lebih besar daripada segala macam peperangan di dalam dunia ini.” Setelah beliau kembali dari peperangan sekecil-kecilnya, kepada peperangan yang sebesar-besarnya yakni peperangan memerangi hawa nafsu.
  4. Setelah sanggup berjuang melawan hawa nafsu sendiri, harus sanggup berjuang dengan musuh-musuh yang hendak menghinakan agama atau melanggar batas-batas keyakinanya.
  5. Menegakkan persaudaraan di dalam Islam, bertolong-tolongan di antara sesama muslim.
  6. Agama Islam adalah agama kemanusiaan, manfaatnya tidaklah dirasakan oleh umat Islam saja, tetapi oleh seluruh umat manusia. Kedatangan Islam telah membawa nikmat dan rahmat ke seluruh muka bumi tidak membedakan segala bangsa dan kaum.
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa program utama dan perjuangan pokok segala usaha ialah pembinaan akhlak/moral mulia. Ia harus ditanamkan dan ditegakkan kepada seluruh lapisan dan tingkatan masyarakat, mulai dari tingkatan atas sampai lapisan masyarakat terbawah. Pada lapisan atas itulah yang pertama-tama wajib memberikan teladan yang baik kepada masyarakat dan rakyat, dan ini akan dapat terwujud manakala para pemimpin berani memberikan contoh-contoh moral yang buruk.

2.5 Hubungan Akhlak / Moral dengan Kehidupan Beragama
Jadi moral atau akhlak dalam Islam sendiri tidak dapat dipisahkan dari kehidupan beragama. Karena nilai-nilai yang tegas, pasti tetap tidak bisa berubah karena keadaan. Tempat dan waktu adalah nilai-nilai yang bersumber dari agama.
Ari Ginanjar Agustian, dalam bukunya ESQ (Emotional Spiritual Question), juga menjelaskan bahwa kekuatan berpikir (manusia) memiliki potensi yang besar bagi hidup manusia. Di mana iman yang dimaksud adalah keyakinan dalam hati, mengucapkan dalam lisan serta mengamalkan perbuatan iman sebagai dasar rujukan dalam proses berpikir secara aktual yang dimanifestasikan dalam bentuk amal sholeh yaitu suatu bentuk aktivitas kerja, kreatifitas yang ditempah oleh semangat tauhid untuk mewujudkan rahmatan lil alamin. Keseimbangan bagi alam dan segala isinya (Agustian, 2002:66).
Hal ini sesuai dengan akhlak/moral Islam yang merupakan suatu sikap dan laku perbuatan yang luhur, yang mempunyai hubungan dengan dzat yang Maha Kuasa: Allah SWT. Bahwasanya akhlak Islam juga adalah produk dari keyakinan atas kekuasaan dzat ke-Esa-an Tuhan, jadi Dia adalah produk dari jiwa tauhid (Amin, 1997:9).
Meskipun akhlak Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan berarti Islam tidak memandang akal sebagai tolak ukur perbuatan itu baik atau buruk. Peranan akal dalam mempertimbangkan baik atau buruknya suatu perbuatan juga sangat besar. Karenanya perbuatan bisa dinilai baik jika menurut pikirannya bahwa perbuatan itu baik, dan buruk atau tercela jika melakukan perbuatan yang diputuskan akalnya buruk. Namun perlu diketahui pula bahwa akal manusia hanya merupakan suatu kekuatan yang dimiliki manusia untuk mencari kebaikan atau keburukan dan keputusannya. Bermula dari pengalaman empiris kemudian diolah menurut kemampuan pengetahuannya. Oleh karena itu, keputusan yang diberikan akal hanya bersifat spekulatif dan subyektif.







BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa etika adalahsalah satu unsur penting dalam kehidupan manusia. Etika adalah acuan manusiadalam berperilaku, yang seolah menjadi batas pembeda manusia dengan makhluklainnya dalam berperilaku.

3.2  Saran
Sebaiknya, etika digunakan sebagai landasan dalam berbagai aspekkehidupan.
























DAFTAR PUSTAKA


Referensi:
  • Al-Ghazali, Ihya’ Ulumaldin, Vol, III, (Beirut: Dar Al-Kutub Alalamiyah, tt.)
  • Asmara AS, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994).
  • Fu’ad Abdul Baqi, Sunan Ibnu Majah
  • Ari Ginanjar Agustian, ESQ (Emotional Spiritual Question) Berdasarkan Enam Rukun Iman dan Lima Rukun Islam, Cet. VII, (Jakarta: Penerbit Arga, 2002).
  • Moh. Amin, 10 Induk Akhlaq Terpuji, (Jakarta: Kalam Mujlia, 1997).
Tags: moral dalam islam, moral dalam agama islam, moral menurut islam, pengertian moral dalam islam, moralitas agama islam, moral agama islam, contoh moral dalam islam, pengertian moral menurut islam.


Kamis, 16 Oktober 2014

KEHARUSAN SAYA



LIMA KEHARUSAN SAYA
         
ð  Mencoba menggerakkan perasaan teman...
Perasaan adalah kunci saya dalam berhubungan dengan teman. Menggerakkan perasaan teman adalah satu cara yang saya lakukanguna mengetahui karakter teman dan memahami kebutuhan-kebutuhannya. Jika hal ini saya miliki maka akan memberikan reaksi dan pengaruh untuk saya sendiri.

ð  Memberi perhatian kepada teman...
Salah satu tindakan yang paling berkesan dalam hati adalah memberikan perhatian terhadap esensi teman. Saya menginginkan teman dalam semua arti langkah hidup saya. Saya akan menghormati teman dan memberikan penghargaan yang besar bagi teman saya. Saya akan usahakan sekuat dan semampu saya jika saya berada di suasana yang mendukung keinginan saya.

ð  Meyakinkan teman...
Meyakinkan adalah mendorong teman untuk memahami pendapat saya, mendukung saya terhadap informasi-informasi yang ingin saya sampaikan kepada mereka, dan berusaha mendapatkan kepercayaan mereka. Selain itu, saya usahakan untuk bisa memberikan sedikit asumsi dengan memberikan bukti-bukti empiris, argumen-argumen, dan dalil-dalil. Semua itu saya lakukan tanpa memberikan kesan menggurui atau merasa lebih tinggi dari mereka.

ð  Kesetiaan berteman...
Kesetiaan menjadi kata yang sering dilupakan oleh banyak kumpulan dan institusi, baik yang bersifat profesi maupun sosial. Diluar sana, ketika seorang berinisiatif melakukan kerja dan melaksanakannyadengan penuh tanggung jawab, maka jasa-jasa dan usahanya akan dilupakan begitu saja. Setelah itu ia akan ditekan, sehingga ia mengundurkan diri karena telah diberikan piagam penghargaan yang tiada nilainya yaitu menertawakannya dan tidak menganggapnya apa-apa. Saya akan berusaha menghargai opini teman walau itu hanya cerita kosong, karena bagiku setiaku hari ini akan dikenang sepanjang hayat teman saya. Kesetiaan akan terletak jika saya memberikan sesuatu yang bernilai dan berharga dari saya.

ð  Daya tarik persahabatan...
Sering kali saya menghadapi persoalan kejiwaan yang mengharuskan saya membutuhkan orang lain sebagai tempat untuk mencurahkan segala isi hati saya. Saya juga membutuhkan teman yang mau mendengarkan segala keluh-kesah dan penderitaan saya. Dengan begitu, saya akan merasa tenang karena pengaruh persahabatan.






S E B E L U M

 A J A L

B E R P A N T A N G

 M A T I