MAKALAH
KONSEP MORAL
Untuk Memenuhi Tugas Mata
kuliah
Pendidikan Agama Islam
Yang dibimbing oleh
Bapak, Fauzi. M.Ag

Disusun Oleh:
SUTIMIN ABDULLAH
PROGRAM STUDY ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS FISIP
UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI
MALANG
2014
KATA PENGANTAR
IQRA’
BISMIRABBIKALLADZI KHALAQ. Bacalah ! dengan menyebut nama Tuhan yang telah
menciptakan (QS. Al-Alaq: 1).
Alhamdulillahi
Rabbil Alamin, segala puji bagi Allah
SWT Tuhan seru sekalian alam, atas limpahan hidayah-Nya, sehingga
penulisan Makalah dengan judul “KONSEP
MORAL DALAM KEHIDUPAN” selesai
dituliskan.
Butiran
mutiara sholawat dan salam semoga tetap tercurah limpahan kepada khalifa akbar
dunia yakni junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa obor keagungan
diatas keborokan moral, laksana fajar di jamannya yang hadir dalam kegelapan
menyibak pekatnya bayang – bayang kabut kebodohan.
Penyusunan
makalah ini tentunya tidak lepas dari bantuan bapak dan ibu dosen, rekan-rekan
mahasiswa dan berbagai pihak. Oleh
karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada :
ü Bapak
dan ibu tercita, serta kak dan adik-adik-ku yang selalu mendo’akan dan memberi
motifasi kepada penulis.
ü Bapak
Fauzi, M.Ag selaku dosen mata kuliah
Pendidikan Agama Islam yang telah banyak meluangkan waktu, ide dan pengarahannya.
ü Teman-teman
kelas serta semua pihak yang tidak bisa
disebut satu persatu yang telah banyak memberikan dorongan dan motivasi dalam
menyelesaikan makalah ini.
Penulis
menyadari bahwa penyusun makalah ini jauh dari kesempurnaan sehingga penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhir kata penulis
berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi semua pihak.
Malang, 07 February
2014
Sutimin Abdullah
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Telinga kita sering mendengar
istilah filsafat moral atau lebih singkatny aetika. Begitu banyak orang – orang
menggunakan istilah ini dalam berbagai kesempatan. Misalnya dalam hal rumah
tangga, bisnis, dunia kampus dan berbagai aspek kehidupan lainnya. Penulis akan
mengajak pembaca untuk memahami hakikat moral filsafat yang sebenarnya. Sejak
dulu hingga sekarang manusia sering mempertanyakan mana yang baik dan mana yang
buruk, karena kerap kali manusia dihadapkan pada pilihan – pilihan etis yang
tidak bisa dijawab oleh agama dan ilmu pengetahuan. Hal tersebut merupakan
alasan dalam pembahasan makalah kali ini. Dalam sejarah perkembangan ilmu,
filsafat moral merupakan aliran pertama dalam filsafat, dengan Socrates sang
maha guru para filsuf sebagai pelopornya. Moral merupakan cabang Aksiologi yang
pada pokoknya membicarakan masalah predikat – predikat nilai betul dan salah
dalam arti susila serta tidak susila . Etika atau moralitas merupakan suatu
fenomena manusiawi yang universal, menjadi ciri yang membedakan manusia dari
binatang. Pada binatang tidak ada kesadaran tentang baik dan buruk, yang boleh
dan yang dilarang, tentang yang harus dan tidak pantas dilakukan. Keharusan
mempunyaidua macam arti: keharusan alamiah (terjadi dengan sendirinya sesuai
hukum alam) dan keharusan moral (hukum yang mewajibkan manusia melakukan atau tidak
melakukan sesuatu). Jadi, pada intinya alasan pemilihan judul makalah ini yakni
menjadi acuan manusia untuk lebih baik dalam bertindak. Yang pastinya, manusia
berperilaku berlandaskan dengan etika, yang seolah menjadi batas pembeda
manusia dengan makhluk lainnya dalam berperilaku.
2.1
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang tersebut maka dapatlah dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Pengertian
Moral itu apa?
2. Bagaimana
konsep Moral dalam Konteks Islam
3. Apa
yang diketahui terkait dengan hakekat hakekat?
4. Bagaimana
implementasinya terkait dengan konsep moral?
5. Bagaimina
Hubungan Akhlat/Moral dengan Kehidupan Beragama?
2.2
Tujuan
Adapun
tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui:
1. Pengertian
Moral
2. Konsep
moral dalam konteks Islam.
3. Hakekat
moral.
4. Implementasinya
terkait dengan konsep moral.
5. Hubungan
Akhlak / Moral dengan Kehidupan Beragama.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Moral
Moral berasal dari bahasa
Latin "mos" (jamak: mores) yang berarti kebiasaan atau
adat. Kata "mos" (mores) dalam bahasa Latin sama
artinya dengan etos dalam bahasa Yunani. Di dalam bahasa Indonesia, kata
moral diterjemahkan dengan arti susila. Adapun pengertian moral yang paling umum adalah tindakan manusia yang
sesuai dengan ide-ide yang diterima umum, yaitu berkaitan dengan makna yang
baik dan wajar. Dengan kata lain, pengertian
moral adalah suatu kebaikan yang disesuaikan dengan ukuran-ukuran
tindakan yang diterima oleh umum, meliputi kesatuan sosial atau lingkungan
tertentu. Kata moral selalu mengacu pada baik dan buruknya perbuatan manusia
sebagai manusia. Telah banyak ahli yang mencoba memberikan pengertian moral.
Seperti apa pengertian moral menurut mereka?
Berikut
ini beberapa Pengertian Moral Menurut para Ahli:
- Pengertian Moral Menurut Chaplin (2006): Moral mengacu pada akhlak yang sesuai dengan peraturan sosial, atau menyangkut hukum atau adat kebiasaan yang mengatur tingkah laku.
- Pengertian Moral Menurut Hurlock (1990): moral adalah tata cara, kebiasaan, dan adat peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya.
- Pengertian Moral Menurut Wantah (2005): Moral adalah sesuatu yang berkaitan atau ada hubungannya dengan kemampuan menentukan benar salah dan baik buruknya tingkah laku.
Dari
tiga pengertian moral di atas, dapat disimpulkan bahwa Moral adalah suatu
keyakinan tentang benar salah, baik dan buruk, yang sesuai dengan kesepakatan
sosial, yang mendasari tindakan atau pemikiran. Jadi, moral sangat berhubungan
dengan benar salah, baik buruk, keyakinan, diri sendiri, dan lingkungan sosial.
2.2
Konsep Moral dalam Konteks Islam (Al Qur’an dan Hadits)
Seperti yang telah diuraikan di
atas, bahwa moral dalam Islam identik dengan akhlak. Di mana kata akhlak
berasal dari bahasa Arab, bentuk jama’ dari kata “khulk”, khulk di
dalam kamus al-Munjid berarti budi pekerti atau perangai.
Di dalam kitab “Ihya’ Ulumaldin”, karya Imam al
Ghozali diungkapkan bahwa:
“Al-khulk ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang
menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan
pemikiran dan perimbangan” (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumaldin, Vol, III:56)
Jadi pada hakekatnya akhlak (budi
pekerti) ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan telah
menjadi kepribadian, hingga dari situ timbul berbagai macam perbuatan dengan
cara mudah dan spontan tanpa dibuat dan tanpa memerlukan pemikiran. Apabila
dari kondisi tadi timbul kelakuan yang baik dan terpuji menurut pandangan
syari’at dan akal pikiran, maka ia dinamakan budi pekerti yang mulia dan
sebaliknya apabila yang lahir kelakuan yang buruk, maka disebutlah budi pekerti
yang tercela.
Selain itu juga disyari’atkan, bahwa
suatu perbuatan dapat dinilai baik jika timbulnya perbuatan itu dengan mudah
sebagai suatu kebiasaan tanpa memerlukan pemikiran. Mengenai syari’at tersebut,
Asmara AS menegaskan bahwa dalam
menetapkan suatu perbuatan, itu lahir dalam kehendak dan disengaja sehingga
dapat nilai baik atau buruk ada dua syarat yang perlu diperhatikan:
a. Situasi memungkinkan adanya pilihan (bukan karena
paksaan) adanya kemauan bebas, sehingga tidak dilakukan dengan sengaja
b. Tahu apa yang dilakukan yakni mengenai nilai baik
buruknya.
Suatu perbuatan dapat dikatakan baik
atau buruk manakala memenuhi syarat-syarat di atas. Dalam Islam, faktor
kesengajaan merupakan penentu tingkah laku dalam penetapan nilai tingkah
laku/tindakan seseorang. Seorang muslim tidak berdosa karena melanggar
syari’at, jika ia tidak tahu bahwa ia berbuat salah menurut hukum Islam. Dalam
hubungan ini Rasulullah SAW pernah bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu
Majah dari Abi Zar sebagai berikut:
حدثنا إبراهيم بن محمد بن يوسف الغريانى, ثنا أبو بين سويد ثنا
أبو بكر الهد لى اعن سهربن حوشب عن ابي در الغفار, قال: قال لرسول الله ص.م. (إن
الله تجاور عن امتى الخطأ والنسيان, وما أستكر هوا عليه)
“Sesungguhnya Allah memberi maaf bagiku dari umatku yang
bersalah, lupa dan terpaksa” (Baqi, Sunan Ibnu Majah:658).
Dalam hadits lain yang diriwayatkan
Ahmad Abu Daud dan Hakim dari Umar bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda :
حدثنا ابو بكر بن شيبة, قنا يريد بن هارون. ح وحدثنا محمد خالد
بن خداس, ومحمد بن يحير قال : ثنا عبد الرحمن بن محمدي, ثنا حملا بن سلمة عن حماد,
عن ابراهيم عن الاسود. عن عاس أن رسول الله ص.م. قال (رفع القلم عن ثلاثة, عن
النائم حتى يستيقظ عن الصغير حتى يكبر ومن الحون حتى بعفل أو يفيق.
Artinya :
“Tidak berdosa seorang muslim karena tiga perkara :
- 1. Seorang yang tidur hingga terbangun
- 2. Seorang anak hingga ia dewasa
- 3. Seorang yang gila hingga ia sembuh dari gilanya (Baqi, Sunan Ibnu Majah:659).
Menurut firman Allah SWT. pada surat
Al-Baqarah ayat 286 :
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
“Ya Tuhan kami janganlah Engkau menghukum kami jika kami
lupa atau bersalah”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Menyimak hadits dan ayat di atas,
perbuatan seseorang karena lupa bersalah atau terpaksa, tidak dapat dinilai
baik atau buruk.
Seorang muslim tentunya berdaya
upaya membentuk hidupnya menurut ajaran Islam dan ajaran Islam adalah ajaran
yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Sehingga akhlaq muslim pun
menggunakan tolak ukur ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Mengenai ini Rasulullah SAW telah
bersabda “Ia hadir untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”
وحدثنى عن مالك أنه قد بلغه أن رسول الله الله ص.م. قال: بعثت
لأتمم حسن الاخلق
“Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang
mulia”
2.3 Hakikat Moral
Moral secara ekplisit merupakan
berbagai hal yang memiliki hubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa
adanya moral manusia tidak akan bisa melakukan proses sosialisasi. Moral pada
zaman sekarang memiliki nilai implisit karena banyak orang yang memiliki moral
atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit.
Moral itu merupakan salah satu sifat
dasar yang diajarkan pada sekolah-sekolah serta manusia harus mempunyai moral
jika ia masih ingin dihormati antar sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan
dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral sendiri
dapat diukur dari kebudayaan masyarakat setempat.
Didalam moral terdapat
perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam menjalankan interaksi dengan
manusia. Jika yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang
berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta mampu menyenangkan
lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dapat dikatakan memiliki nilai mempunyai
moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Moral juga dapat juga diartikan
sebagai sikap, perilaku, tindakan, perbuatan yang dilakukan seseorang pada saat
mencoba melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman, tafsiran, suara hati, serta
nasihat, dll.
Menurut Immanuel Kant, moralitas
adalah hal kenyakinan serta sikap batin dan bukan hanya hal sekedar penyesuaian
dengan beberapa aturan dari luar, entah itu aturan berupa hukum negara, hukum
agama atau hukum adat-istiadat. Selanjutnya dikatakan jika, kriteria mutu moral
dari seseorang adalah hal kesetiaannya terhadap hatinya sendiri.
Moral merupakan tindakan manusia
yang bercorak khusus yang didasarkan kepada pengertiannya mengenai baik dan
buruk. Morallah yang membedakan manusia denga makhluk tuhan yang lainya dan
menempatkan pada posisi yang baik diatas makhluk lain.
Moral adalah realitas dari
kepribadian pada umumnya bukan hasil dari perkembangan pribadi semata, namun
moral merupakan tindakan atau tingkah laku seseorang. Moral tidaklah bisa
dipisahkan dari kehidupan beragama. Di dalam agama Islam perkataan moral sangat
identik dengan akhlak. Di mana kata ‘akhlak’ berasal dari bahasa Arab jama’
dari ‘khulqun’ yang berarti budi pekerti.
Moral
merupakan
norma yang bersifat kesadaran atau keinsyafan terhadap suatu kewajiban
melakukan sesuatu atau suatu keharusan untuk meninggalkan perbuatan–perbuatan
tertentu yang dinilai masyarakat dapat melanggar norma–norma. Dalam hal ini
dapat dikatakan bahwa suatu kewajiban dan norma moral sekaligus menyangkut
keharusan untuk bersikap bersopan santun. Baik sikap sopan santun maupun
penilaian baik – buruk terhadap sesuatu, keduanya sama – sama bisa membuat
manusia beruntung dan bisa juga merugikan. Disini terdapat kesadaran akan
sesuatu perbuatan dengan memadukan kekuatan nilai intelektualitas dengan nilai
– nilai moral.
Dalam kamus filsafat terdapat
beberapa pengertian dan arti moral
yang diantaranya adalah sebagai berikut:
- Memiliki: Kemampuan untuk diarahkan oleh (dipengaruhi oleh) keinsyafan benar atau salah; Kemampuan untuk mengarahkan (mempengaruhi) orang lain sesuai dengan kaidah-kaidah perilaku nilai benar dan salah.
- Menyangkut cara seseorang bertingkah laku dalam berhubungan dengan orang lain.
- Menyangkut kegiatan-kegiatan yang dipandang baik atau buruk, benar atau salah, tepat atau tidak tepat.
- Sesuai dengan kaidah-kaidah yang diterima, menyangkut apa yang dianggap benar, baik, adil dan pantas.
Setelah mengetahui pengertian dan
arti moral sudah barang tentu kita harus memiliki moral yang baik jika kita
masih ingin dianggap manusia. Oleh karena itu, mari kita tingkatkan generasi
kita dengan menanamkan moral-moral moral yang baik.
2.4 Implementasinya Terkait Konsep
Moral.
Perwujudan
Moral Dalam Kehidupan
Dengan demikian jelaslah bahwa agama
menjadi sumber dari akhlak yang mulia, maka salah satu jalan untuk menegakkan
akhlak ini prinsip-prinsip agama harus dilaksanakan dalam kehidupan
sehari-hari.
Dalam mewujudkan nilai-nilai
moral/akhlak yang mulia ada beberapa kewajiban yang perlu ditunaikan:
- Membersihkan hati serta mensucikan hubungan dengan Allah SWT. Keyakinan semacam ini harus tertanam dalam hati, dikerjakan dan diamalkan serta disampaikan pada orang lain. Kesucian hatinya nampak dalam perilakunya sehari-hari dan menyatakan bahwa yang baik itu adalah yang diakui baik oleh Islam, sedang yang buruk adalah yang dinyatakan oleh Islam buruk pula.
- Memperhatikan seluruh perintah dan larangan agama. Karena percuma beragama kalau tidak diiringi amal. Banyak orang mengaku beragama Islam, tetapi tidak dikerjakannya seruhan agama atau tidak dihentikannya semua larangan. Orang yang demikian selamanya tidaklah merasakan kelezatan cinta menjadi seorang Muslim.
- Belajar melawan kehendak diri dan menaklukkannya kepada kehendak Allah SWT. Pekerjaan ini amat berat dan sulit, hanya orang-orang yang mempunyai kemauan teguh dan hati yang sabar serta tahan yang dapat mengerjakannya. Nabi Muhammad bersabda, “Bahwa peperangan di antara akal dan hawa nafsu, di antara seruan kebenaran dengan suara setan. Lebih besar daripada segala macam peperangan di dalam dunia ini.” Setelah beliau kembali dari peperangan sekecil-kecilnya, kepada peperangan yang sebesar-besarnya yakni peperangan memerangi hawa nafsu.
- Setelah sanggup berjuang melawan hawa nafsu sendiri, harus sanggup berjuang dengan musuh-musuh yang hendak menghinakan agama atau melanggar batas-batas keyakinanya.
- Menegakkan persaudaraan di dalam Islam, bertolong-tolongan di antara sesama muslim.
- Agama Islam adalah agama kemanusiaan, manfaatnya tidaklah dirasakan oleh umat Islam saja, tetapi oleh seluruh umat manusia. Kedatangan Islam telah membawa nikmat dan rahmat ke seluruh muka bumi tidak membedakan segala bangsa dan kaum.
Dari penjelasan di atas, dapat
dipahami bahwa program utama dan perjuangan pokok segala usaha ialah pembinaan
akhlak/moral mulia. Ia harus ditanamkan dan ditegakkan kepada seluruh lapisan
dan tingkatan masyarakat, mulai dari tingkatan atas sampai lapisan masyarakat
terbawah. Pada lapisan atas itulah yang pertama-tama wajib memberikan teladan
yang baik kepada masyarakat dan rakyat, dan ini akan dapat terwujud manakala
para pemimpin berani memberikan contoh-contoh moral yang buruk.
2.5 Hubungan Akhlak / Moral dengan Kehidupan Beragama
Jadi moral atau akhlak dalam Islam
sendiri tidak dapat dipisahkan dari kehidupan beragama. Karena nilai-nilai yang
tegas, pasti tetap tidak bisa berubah karena keadaan. Tempat dan waktu adalah
nilai-nilai yang bersumber dari agama.
Ari Ginanjar Agustian, dalam bukunya
ESQ (Emotional Spiritual Question), juga menjelaskan bahwa kekuatan
berpikir (manusia) memiliki potensi yang besar bagi hidup manusia. Di mana iman
yang dimaksud adalah keyakinan dalam hati, mengucapkan dalam lisan serta
mengamalkan perbuatan iman sebagai dasar rujukan dalam proses berpikir secara
aktual yang dimanifestasikan dalam bentuk amal sholeh yaitu suatu bentuk
aktivitas kerja, kreatifitas yang ditempah oleh semangat tauhid untuk
mewujudkan rahmatan lil alamin. Keseimbangan bagi alam dan segala isinya
(Agustian, 2002:66).
Hal ini sesuai dengan akhlak/moral
Islam yang merupakan suatu sikap dan laku perbuatan yang luhur, yang mempunyai
hubungan dengan dzat yang Maha Kuasa: Allah SWT. Bahwasanya akhlak Islam juga
adalah produk dari keyakinan atas kekuasaan dzat ke-Esa-an Tuhan, jadi Dia
adalah produk dari jiwa tauhid (Amin, 1997:9).
Meskipun akhlak Islam berdasarkan
Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan berarti Islam tidak memandang akal sebagai tolak
ukur perbuatan itu baik atau buruk. Peranan akal dalam mempertimbangkan baik
atau buruknya suatu perbuatan juga sangat besar. Karenanya perbuatan bisa
dinilai baik jika menurut pikirannya bahwa perbuatan itu baik, dan buruk atau
tercela jika melakukan perbuatan yang diputuskan akalnya buruk. Namun perlu
diketahui pula bahwa akal manusia hanya merupakan suatu kekuatan yang dimiliki
manusia untuk mencari kebaikan atau keburukan dan keputusannya. Bermula dari
pengalaman empiris kemudian diolah menurut kemampuan pengetahuannya. Oleh
karena itu, keputusan yang diberikan akal hanya bersifat spekulatif dan
subyektif.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
etika adalahsalah satu unsur penting dalam kehidupan manusia. Etika adalah
acuan manusiadalam berperilaku, yang seolah menjadi batas pembeda manusia
dengan makhluklainnya dalam berperilaku.
3.2
Saran
Sebaiknya, etika digunakan sebagai landasan dalam berbagai
aspekkehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Referensi:
- Al-Ghazali, Ihya’ Ulumaldin, Vol, III, (Beirut: Dar Al-Kutub Alalamiyah, tt.)
- Asmara AS, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994).
- Fu’ad Abdul Baqi, Sunan Ibnu Majah
- Ari Ginanjar Agustian, ESQ (Emotional Spiritual Question) Berdasarkan Enam Rukun Iman dan Lima Rukun Islam, Cet. VII, (Jakarta: Penerbit Arga, 2002).
- Moh. Amin, 10 Induk Akhlaq Terpuji, (Jakarta: Kalam Mujlia, 1997).
Tags: moral dalam islam, moral dalam
agama islam, moral menurut islam, pengertian moral dalam islam, moralitas agama
islam, moral agama islam, contoh moral dalam islam, pengertian moral menurut
islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar